Stay Patient

Standar

we shouldn’t have sparked the fire again

I know how longing it must be

How empty some places that shouldn’t be empty

and how the longing asks for just a glance

but then, the fire started to flame again..

no matter how I miss you

no matter how we can’t meet for long

no matter how we have no excuse to meet

no matter how I keep being in these certainty and uncertainty

I am still, and you must be , uncertain too…

but we’re preparing for someone good, rite?

if not you, he must be another good person…

if not me, she must be another good person…

It has been decided, so will we disappoint ourselves?

For the fate that has been decided and the things around it?

will we be ready for facing problems later if we’re not patient now?

I especially ask myself who is very hard to be patient…

Stay Patient, let’s welcome the future with a blessed way :”)

 

Just a daydream of something that mustn’t actually occur in real life

Dlingo, Bantul DIY

Standar

Bukan tentang perjalanannya yang kutulis disini..

Perjalanan yang tidak kusesali

Perjalanan mencoba mengendarai motor di jalanan seperti itu pertama kali

Perjalanan dimana aku punya waktu untuk berpikir…

Pikiran itu yang akan kutuangkan disini..

Ini bukan tentang siapa yang membaca, tapi tentang apa yang ingin kutuliskan disaat aku boleh menulis sesuatu…

Perjalanan yang melibatkan sesuatu yang rasanya berkali-kali dihindari, akhirnya sampai juga menjemput takdirnya untuk terjadi… untungnya dari perjalanan ini,bukan penyesalan dan rasa bersalah yang bertambah besar. Semoga benar begitu, semoga perjalanan ini telah dilewati dengan cara yang benar.

Perjalanan itu pun akhirnya dilewati juga.. perjalanan 4 jam bolak balik sleman bantul benar-benar memberi kesempatan buatku mengendapkan pikiran, berpikir lebih jernih, dan menemukan sesuatu yang lebih baik..

_________________________________________________________________

Sebelum perjalanan ini, aku berpikir tentang bulan..

Bertanya pada bulan yang mungkin bersikap begitu bukan karena diriku…

Bulan, apakah kamu membenciku?

Aku tidak masalah ketika bulan tidak lagi berada di dekat sini, selama bulan tidak benci kepadaku.

 

Kenapa begitu? maknailah kalimat ini..

“Kebencian dalam hati ini tidak ada, tapi perasaan yang pernah ada dalam hati ini juga ikut hilang bersama hilangnya kebencian. ”

Aku telah belajar lebih dalam tentang takdir. Pasti yang lain, jika bukan bulan. Dan itu tidak akan berubah. Nama itu tidak akan berubah. Hal yang perlu dikhawatirkan seharusnya adalah bagaimana cara ku menunggu “Pasti yang lain, jika bukan bulan”, apakah dengan jalan yang DIA sukai, atau yang DIA tidak sukai…

Saat hati ini merindu waktu yang menanti kesiapan diri.

Standar

Song 1
Maaf Tuk Berpisah
Tashiru

Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku
Yang selalu mengenangmu selamanya

*Kini Kusadari bahwa semua itu
Adalah salah dan juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai

Reff :
Maafkan lah sgala khilaf yang tlah kita lewati
T’lah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan
Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
Untuk kembali arungi hidup dalam ridlo Ilahi

Kutahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci yang sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih saying yang hakiki

Kembali ke *, Reff

Dan bila takdirnya kita bersama
Pastilah Allah kan menyatukan kita

Kembali ke Reff

 

Pengirim : Yeri Yanto
Song 2
Di sini pernah ada rasa simpati
Di sini pernah ada rasa menggagumi
Rasa ingin memiliki
Memasukkanmu ke dalam hati ini

Menjadi penghuni…
Mencoba berlindung di balik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri…
Namun Ternyata semua hanya permainan nafsu

Untuk memburu cinta yang semu
Aku Tertipu…
Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang ku tanam 2 x

Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan
Saat ijab qabul telah tertunaikan 2 x

Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang ku tanam 5 x

Menikah, Seberapa Siap?

Standar

Safira C 06/02/16 | 08:27 Artikel Lepas Ada 1 komentar 2.108 Hits
Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustasi. (pinterest.com / Wan Nurul Izzaty / Urban Concept Canvas)
Ilustasi. (pinterest.com / Wan Nurul Izzaty / Urban Concept Canvas)
dakwatuna.com – Pengendali hati

Saat jatuh cinta, orang yang cerewet akan tiba-tiba diam bergeming, mematung.

Sementara orang yang pendiam akan tiba-tiba bicara panjang lebar, bercerita.

Jatuh cinta itu penyakit. Para pengendali hati akan mati-matian mematikan nyalanya setiap kali hati terjangkit. Berupaya keras memadamkan, berusaha menghapus, memusnahkan. Menderita? Sebagai kapten hati kita sendiri, soal ini bukan lagi bicara tentang kesempatan menghargai perasaan. Justru dengan membatasi dan mengendalikan, perasaan itu semakin termuliakan.

Setiap perempuan mampu menaklukkan laki-laki mana pun. Fitrah. Hanya saja pembedanya, perempuan pengendali hati tahu betul bahwa menjaga iman saudaranya lebih utama. Mereka menahan diri, menyembunyikan pesona. Menyimpannya untuk satu orang saja, seseorang yang istimewa karena memang ditakdirkan bersama.

Setiap laki-laki mampu menaklukkan perempuan mana pun. Fitrah. Hanya saja bedanya, laki-laki pengendali hati tahu benar bahwa menjaga iman saudarinya lebih utama. Mereka pun menyimpan pesona spesialnya hanya untuk seseorang.

Jangan jatuh cinta selain kepada dia yang namanya memang tertulis untukmu. Dia yang memang disiapkan untukmu. Dia yang memang akan menemukanmu, dan akan kau temukan di satu waktu. Maka selama menunggu, sibuklah memperbaiki diri. Goreskan sebanyak-banyaknya prestasi. Puaskan setiap hobi. Nikmati masa sendiri. Selesaikan urusan pribadi. Jika saatnya memang sudah tiba, kau akan bertemu seseorang yang tepat. Seseorang yang terdeteksi kuat dalam radarmu. Naluri belulang yang mengenali sang rusuk, pun sebaliknya.

Bersiaplah, atau bersikap. Karena kau bukan mencari seorang pembersih rumah maupun koki handal. Juga bukan membutuhkan seorang pembenar atap bocor maupun jasa antar ke mana saja. Saat kau siap mengucap perjanjian yang menggetarkan arasy dan didengar segenap penduduk langit, saat kau bersedia menanggung apa yang akan tertanggung, kau telah memilih perempuan yang akan kau tanggung dosanya selama sisa usia yang ada, kau telah memilih laki-laki yang akan kau taati sepanjang usia, katakan ini pada walinya.

I am gonna marry your princess, and make her my queen
Let me hold your prince, and make him my king

Setelah itu, bukan naskah kisah Cinderella atau putri dongeng mana pun yang akan dijalani. Bukan kemegahan kastil istana dan suguhan ratusan piring pudding pesta beserta pelayan yang menanti. Sejatinya, kau akan hidup bersama manusia yang sewaktu-waktu akan membuatmu marah, kesal, dan jengkel. Manusia yang akan menguji semua pertahananmu, mengguncang titik terlemahmu.

Maka gigitlah dengan geraham nasehat itu:

“Barang siapa pergi karena mencari kehormatan, ia pasti diuji dengan kehinaan. Barang siapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, niscaya ia akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa mengerjakan sesuatu sebab dorongan agama, Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama agamanya.”

Seberapa banyak buku yang harus dibaca untuk itu semua? Seberapa banyak hafalan kitab suci yang telah dipersiapkan untuk berlayar mengarungi samudera? Seberapa yakin untuk bisa memberi makan dan diberi makan orang lain? Seberapa matang persiapan menghadapi makhluk planet asing yang akan menyabotase termometer ego? Ya, karena kabarnya asal usul pria seakan dari Mars, dan wanita dari Venus.

Hari itu sudah tercatat di lauhul mahfudz.
Terkadang kita lupa bahwa tugas kita tinggal menjalani

Lantas…
Untuk peristiwa peradaban itu, seberapa siap?

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu”. (An Nisa: 1). (dakwatuna.com/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/02/06/78854/menikah-seberapa-siap/#ixzz3zmKeNXZi
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Nikah, Mudah atau Susah?

Standar

(annida-online.com)

Dulu, saya mengira setiap orang yang mau menikah di usia muda itu berarti sudah pasti siap lahir batin untuk membangun rumah tangga.

Saya sendiri sudah bersiap-siap menikah sejak SMA, saya baca berbagai buku tentang pernikahan, baik dari tinjauan psikologis, agama, kesehatan, bahkan buku-buku yang bercerita tentang tragedi pernikahan seperti perselingkuhan, poligami, dllsb. Saya baca semuanya memang untuk mempersiapkan mental.

Pikiran saya saat itu sederhana saja… Kalau cepat atau lambat saya pasti menikah, kenapa tidak bersiap-siap? Kalaupun ternyata jodoh saya tidak ada di dunia ini, setidaknya Allah sudah melihat usaha saya. Target saya, usia 19 tahun saya sudah siap menikah.

Saya juga sudah melobi orangtua agar diizinkan nikah muda, padahal saat itu saya belum punya calon. Saya juga sudah bicarakan ke dua orang kakak perempuan saya kalau saya minta izin menikah duluan. Saya sedemikian bersiap-siap karena saya menganggap pernikahan adalah hal yang penting.

Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaan bagus saja, teman-teman saya rela belajar tinggi-tinggi sampai S1, S2, mengeluarkan uang yang cukup banyak, rela membeli berbagai judul buku, begadang untuk mengerjakan tugas, maka logika saya adalah… Aneh banget kalau untuk pernikahan, yang dipersiapkan hanya masalah gedung resepsi, calon pengantinnya, dana hajatan, menu catering, kocak! Padahal sebagian besar orang menghabiskan usianya dalam bingkai pernikahan.

Bagi saya, siap-siap nikah itu lebih penting pada visi-misi dan juga mental. Mental untuk mau memberi dan diberi, mental untuk mau mengerti dan dimengerti, mental untuk menerima kelebihan dan juga kekurangan pasangan, mental untuk dapat menerima perbedaan. Dalam pikiran saya, menikah itu bukan finish, melainkan start!

Makanya saya cukup syok mendapati fakta bahwa banyak juga perempuan/akhwat yang menikah muda tapi tanpa persiapan, mereka cuma berpikiran enaknya menikah, kalau jodoh udah datang yaa jangan ditolak, daripada pacaran mending langsung nikah. Yaa… Bener sih, tapi pernikahan kan nggak sesederhana itu!

Bayangkan kalau setelah menikah ternyata langsung hamil, kondisi tubuh dan mood perempuan hamil tuh beda banget loh! Cium bau asap knalpot aja bisa mual, bawaannya jadi males dan gampang emosi.

Belum lagi kalau sudah lahiran, mengurus anak tanpa adanya persiapan mental menjadi seorang ibu, bisa berabe! Ditambah lagi, banyak juga yang meskipun memakai KB, tetap tidak mempan, akhirnya tiap tahun melahirkan. Terbayang bagaimana kondisi psikis seseorang yang menikah tanpa persiapan?
Masih banyak kasus-kasus lainnya yang membuat pernikahan tampak susah, sebenarnya bukan pernikahannya yang susah, tapi karena kitanya yang tidak mempersiapkan diri dengan baik.

Ibarat mau menghadapi ujian, tapi nggak pernah belajar materi ujiannya, ketika dirasa soalnya susah-susah yaa jangan salahkan siapa-siapa. Sedangkan orang-orang yang sudah mempersiapkan diri saja belum tentu bisa jawab soal ujian dengan baik… Ya kan?

Saya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu sebenarnya relatif mudah asalkan kita persiapkan sebelumnya  Terutama adalah mempersiapkan hati/ mental. Saya sendiri telah merasakan perjalanan 7 tahun pernikahan, alhamdulillah pernikahan membuat saya lebih dewasa dan bahagia. Jadi lebih menghargai perbedaan, lebih mampu memaknai tanggungjawab, lebih dapat menikmati hidup.

Badai besar pernah menerpa rumah tangga kami, sekarang sudah berlalu, tapi bukan tidak mungkin di masa depan akan ada lagi, tapi alhamdulillaah… Yang namanya rumus hidup itu memang sederhana saja, jadi… Apapun persoalannya, rumusnya yaa itu-itu saja, demikian juga dalam pernikahan.

Jika ingin pernikahan terasa mudah, sebelum menghadapinya, persiapkanlah diri terlebih dulu. Baik secara materil, terlebih lagi non materil. Walaupun pernikahan ibarat berenang, tidak mungkin bisa jago hanya dengan membaca teori, melainkan harus langsung praktek. Tapi kalau tanpa persiapan apa-apa, bisa jadi tenggelam cuma karena kaki keram. Konyol kan? Betapa banyak pernikahan karam hanya karena masalah sepele, misalnya karena tidak mengerti perbedaan komunikasi laki-laki dan perempuan.

Kalau ingin merasakan pernikahan yang susah, tidak perlu siap-siap, hindari saja pernikahan sebisa-bisanya. Namun yang namanya fitrah, makin dihindari… Ironisnya justru makin mendekat.

Sekarang, pilihan di tangan kita. Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat untuk sebuah persiapan. Bersiap-siaplah, sisanya… Percayakan pada Allah saja! Ia paling tahu yang terbaik untuk diri kita.

Semoga Allah kan selalu memudahkan dan memberkahi setiap urusan kita, termasuk urusan membina rumah tangga. Aamiin.

Syamsa Hawa

Kemana Masa Mudaku Melangkah? [Repost]

Standar

Sangat disayangkan bahwa banyak pemuda Islam pada zaman ini yang mengidolakan orang-orang yang justru menjerumuskan mereka kepada kerusakan agama, ibadah dan, akhlak

2 November 2015 (muslim.or.id)
Retro microphone on stage in restaurant. Blurred background

Para ulama berselisih pendapat mengenai kapankan masa muda itu. Pendapat yang terkuat adalah usia muda itu diawali masa baligh dan berakhir sampai sebelum usia 40 tahun. An-Nawawi rahimahullah mengatakan:

الشباب عند أصحابنا هو من بلغ ولم يتجاوز ثلاثين سنة

“Pemuda menurut ulama madzhab kami adalah orang yang telah mencapai baligh, namun tidak melampaui usia 30 tahun” (Syarah Shahih Muslim: 9/173).

Ats-Tsa’alabi rahimahullah berkata:

إن الشاب هو الذي بين الثلاثين والأربعين

“Sesungguhnya pemuda adalah sosok orang yang berusia antara 30 dan 40 tahun” (Fiqhul Lughah: 111)1.

Ibnu Atsir rahimahullah berkata,

والكهل من الرجال: من زاد على الثلاثين سنة إلى الأربعين ، وقيل من ثلاث وثلاثين إلى تمام الخمسين

“Orang yang berada pada masa transisi antara masa muda ke masa tua adalah: orang yang berusia lebih dari 30 tahun sampai 40 tahun. Adapula ulama yang berpendapat (bahwa orang yang berada pada masa transisi tersebut adalah): orang yang berusia 33 tahun sampai genap berusia 50 tahun” (An-Nihayah fi gharibil Hadits: 4/313)2.

Hal ini mengisyaratkan masa muda umat ini rata-rata memakan waktu hampir sepertiga dari usia mereka, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa pada umumnya usia umat beliau antara 60-70 tahun, beliau bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

 

“Usia umatku adalah diantara 60 sampai 70 tahun, sedangkan paling sedikit jumlahnya diantara mereka adalah orang yang usianya melampui usia rata-rata umatku tersebut” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Dengan demikian, jika seseorang dikaruniai bisa mengenyam masa mudanya dengan lengkap, maka itu berarti sekitar 25 tahun ia habiskan masa mudanya tersebut di kehidupan dunia ini, sebelum masuk kedalam masa transisi dan akhirnya masa tuapun tiba, saat kekuatan tubuh seseorang mulai menurun, tulangnya mulai merapuh dan bisa jadi sudah mulai pikun. Dua puluh lima tahun adalah suatu masa yang panjang bagi pemuda untuk bisa menorehkan berbagai macam prestasi di masyarakatnya!

Oleh karena itulah, dalam masa keemasan sejarah Islam, ketika tarbiyah terhadap pemuda demikian bagusnya, maka tonggak-tonggak perubahan umat Islampun banyak dipegang oleh para pemuda. Deretan nama para tokoh, pemimpin dan pembaharu dalam Islam ini banyak diisi oleh para pemuda Islam.

Selebritis Bukan Idolamu, Wahai Pemuda

Sangat disayangkan bahwa banyak pemuda Islam pada zaman ini yang mengidolakan orang-orang yang justru menjerumuskan mereka kepada kerusakan agama, ibadah dan, akhlak. Mereka tidak memahami apa patokan sosok idola yang baik itu! Kenyataannya, banyak pemuda yang menilai bahwa patokan idola yang baik itu adalah ketenaran dalam masalah hobi yang mereka sukai, tanpa memandang apakah sosok idola tersebut memiliki sifat-sifat yang dicintai oleh Allah atukah tidak. Oleh karena itulah, banyak pemuda yang mengidolakan para seleberitis yang justru mencelakakan dan merendahkan martabat mereka!

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), seleberitis itu maknanya adalah orang yang terkenal atau masyhur.

Jika demikian maknanya, tentulah keterkenalan seseorang tidak secara mutlak menjadi standar kelayakan untuk menjadi sang idola! Karena banyak orang-orang yang terkenal, namun justru ketenarannya dalam hal-hal yang buruk. Misalnya terkenal sebagai pemimpin yang kejam dan takabur, seperti fir’aun dan namrud,

Terkenal karena disebut sebagai sosok penduduk Neraka, seperti abu lahab dan selain mereka.

Atau idola banyak pemuda zaman ini, dari para seleberitis yang tidak kenal tauhid, tidak shalat, pemuja setan, suka selingkuh, mengumbar aurat atau selainnya dari rekam jejak yang dimurkai oleh Allah Ta’ala. Wahai para pemuda, pilihlah idola yang jelas-jelas dicintai oleh Allah Ta’ala, dan idola tertinggi kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian para Rasul dan Nabi selain beliau ‘alaihimus salam, lalu para Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’inradhiyallahu ‘anhum , selanjutnya para imam kaum muslimin dan orang-orang yang sholeh. Jika Anda mengikuti idola-idola yang shaleh tersebut, maka keberkahan akan Anda dapatkan dalam kehidupan Anda!

Wahai para pemuda, inilah pemuda idola Anda!

Wahai para pemuda, tinggalkan idola-idola palsu yang tidak menambah kecuali kerugian dunia akhirat Anda! Idola-idola palsu dari kalangan musuh-musuh Islam, yang membawa ajaran rusak, tidak mengenal shalat, banyak maksiat dan berakhlak buruk! Hanya karena dibungkus dengan baju kemewahan dan ketenaran atau semacamnya, idola-idola palsu tersebut laris di kalangan para pemuda Islam!

Gantilah idola-idola palsu yang merusak akhlak Anda, merendahkan martabat Anda dan menjerumuskan Anda dalam kubang kesyirikan, kemaksiatan, tata cara ibadah yang menyimpang serta akhlak yang buruk! Tinggalkan idola-idola yang merusak tersebut, karena itu adalah racun bagi hati dan perilaku Anda! Sadarlah wahai pemuda, Anda sedang diincar, ditarget dan dibidik untuk menjadi budak-budak penghusung sponsor ideologi batil, ajaran agama sesat dan perilaku menyimpang dari adab Islami!

Segera jaga, lindungi dan sayangi diri Anda dengan menggantungkan harapan dan tawakkal kepada Allah semata dan berjuang keras untuk menjadi hamba-Nya yang taat, menjadi pemuda dan pemudi yang bertauhid, beribadah dengan benar dan berakhlak Islami!

Mari, ikatkan diri Anda dengan profil-profil pemuda yang mulia, baik itu pemuda dari kalangan Nabi maupun generasi terbaik Salafush Shalih kita, serta pemuda dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.